Einstein, Al-Qur’an, dan Retakan Peradaban Barat

- Penulis

Sabtu, 31 Januari 2026 - 10:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AkpersiBantenNews.com – Nama Albert Einstein kerap dipanggil sejarah sebagai lambang kejernihan akal. Ia adalah mata yang menatap semesta dengan rumus, telinga yang mendengar dentum kosmos sebagai harmoni. Maka ketika beredar kisah bahwa Einstein pernah membuka lembar-lembar Al-Qur’an, publik pun terbelah. Antara percaya, ragu, dan bertanya lebih dalam.

Kisah itu, entah benar sepenuhnya atau sekadar gema dari hasrat manusia mencari pertemuan iman dan nalar, menyisakan satu perkara penting, serta kerinduan pada makna.

Einstein sendiri berkali-kali menegaskan bahwa sains tanpa nilai akan timpang, dan agama tanpa nalar berisiko buta.

Dalam celah itulah, Al-Qur’an sebagai teks yang menantang manusia untuk berpikir, merenung, dan membaca tanda-tanda alam yang sering dipahami bukan sekadar kitab ibadah, melainkan undangan intelektual.

Tentang ramalan “Barat akan luluh lantah”, barangkali ia bukan nubuat literal yang menunggu tanggal. Ia lebih menyerupai peringatan moral.

Peradaban tidak runtuh oleh musuh dari luar semata, melainkan oleh retaknya kompas etika di dalam keserakahan yang mengeras, teknologi yang berlari tanpa kebijaksanaan, dan kemajuan yang menafikan kemanusiaan.

Jika barat atau siapa pun yang mengukur kejayaan hanya dengan angka dan kekuatan, maka keruntuhan itu bukan kutukan, melainkan konsekuensi.

Einstein, dalam banyak surat dan pernyataannya, mengingatkan dunia agar tak memisahkan kecerdasan dari tanggung jawab.

Al-Qur’an, dalam bahasa yang puitik sekaligus tegas, mengajak manusia membaca alam sebagai ayat dan tanda, bukan sekadar objek. Keduanya bertemu pada satu simpul, yakni akal yang tunduk pada nurani.

Maka kolom ini tidak hendak mengukuhkan klaim, melainkan mengajak merenung. Bahwa peradaban apa pun. Baik barat, timur, atau yang mengaku netral akan bertahan sejauh ia merawat keadilan, membatasi kesombongan, dan menautkan ilmu dengan hikmah.

Jika tidak, runtuhnya bukan soal siapa membaca kitab apa, melainkan siapa yang lupa membaca dirinya sendiri.

Penulis : Redaksi

Editor : Deden M, C.BJ., C.ILJ.

Sumber Berita: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel sibernasional.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Konfirmasi KBO Satnarkoba Polres Indramayu Terkait Maraknya Peredaran Obat Keras Terlarang Daftar G, Dan Segera Tangkap SON
Peredaran Obat Keras Golongan G Diduga Kembali Menggurita di Wilayah Hukum Sindangkerta, Transaksi Berlangsung Terselubung
Diduga Lindungi Bisnis Ilegal, Pelaku Oplosan LPG Aniaya Awak Media
Respon Cepat Polsek Panongan Polresta Tangerang Tindak Lanjut Aduan ke Layanan 110
Ibu Korban Tolak Uang Damai, Tarilah Desak Lanjutkan Kasus Kecelakaan yang Menewaskan Ainun
Diduga Beredar Kontak “Bos Madol” di Indramayu, Masyarakat Diminta Waspada
Duka Mendalam Ibu Tarilah: Anak Ketiga Meninggal Usai Dikejar Rombongan Sekolah Lain, Keluarga Minta Keadilan
RUANG ACARA PIDANA BERUBAH: Dari Teks Hukum ke Nafas Keadilan di Bilik Polsek Mande
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 14:33 WIB

Konfirmasi KBO Satnarkoba Polres Indramayu Terkait Maraknya Peredaran Obat Keras Terlarang Daftar G, Dan Segera Tangkap SON

Rabu, 22 April 2026 - 13:06 WIB

Peredaran Obat Keras Golongan G Diduga Kembali Menggurita di Wilayah Hukum Sindangkerta, Transaksi Berlangsung Terselubung

Rabu, 22 April 2026 - 07:29 WIB

Diduga Lindungi Bisnis Ilegal, Pelaku Oplosan LPG Aniaya Awak Media

Rabu, 22 April 2026 - 05:43 WIB

Respon Cepat Polsek Panongan Polresta Tangerang Tindak Lanjut Aduan ke Layanan 110

Selasa, 21 April 2026 - 18:33 WIB

Ibu Korban Tolak Uang Damai, Tarilah Desak Lanjutkan Kasus Kecelakaan yang Menewaskan Ainun

Berita Terbaru